Karya Tulis

​Baca Buku Tidak Berguna? | PB PERMATA

Oleh : Rizky Maulana (Koordiantor Biro Keagamaan Pengurus Cabang Permata Bandung)

Indonesia masih “begini-begini saja”, semoga apa yang “disemogakan” bangsa ini cepat terwujud diwaktu terdekat, aamiin. Saya itu salah seorang dari ribuan orang yang “katanya” hobi membaca buku. Dan kita harus sisihkan uang jajan kita untuk membeli buku, agar hobi kita tersalurkan dengan baik.

Negeri kita ini kaya akan sumber daya alamnya, saking kayanya, kita “diwajibkan” oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk “berbagi” kepada bangsa asing. Tapi kenapa, kita orang pribumi sulit sekali sejahtera padahal sangat mudah dan sering “berbagi” lahan dan sumber kehidupan dengan bangsa asing? Katanya kalau kita memberi, Tuhan akan memberikan lebih, ah sudahlah, saya yakin bukan Tuhan yang salah.

Sepertinya orang-orang yang seperti saya, yang hobinya “bolak-balik kertas” perlu mengevaluasi diri. Kenapa? Karena kita tidak cukup hanya dengan membaca buku. Ketika teori dalam buku kita kaji bersama, seharusnya ada langkah tindak lanjut dari hasil bacaan dan diskusi kita.

Sekarang ini saya adalah seorang mahasiswa, yang “katanya” agen perubahan. Teman-teman saya juga sama, mereka agen perubahan. Jadi pertanyaan dalam hati saya, “mau ngerubah apa toh kiw, wong Indonesia ini sudah merdeka?”. Iya juga sih, buat apa saya punya sebutan mahasiswa, kan Indonesia sudah sejahtera, haha, ga ada gunanya gua sebagai mahasiswa “jika” memang kenyataannya Indonesia sudah sejahtera. Katanye sih sudah sejahtera karna tanah pun sudah tumbuh dengan gedung-gedung mewah, ngerikan negeriku ini.

Mahasiswa itu dituntut untuk “memperkosa” buku, walau sebagian dari mereka “jijik” dengan perbuatan tersebut. Saya perhatikan lingkungan sekitar, mereka yang membaca buku sangatlah banyak, tapi tidak ada pengaruh lebih untuk bangsa ini. Ini kenapa sih? Apa bukunya kurang bagus? Ataukah si pembacanya yang kurang paham? Atau ada atau atau yang lain?

Yang sering membaca buku saja sering menemukan kesulitan dan kebingungan dalam kehidupannya (berbangsa, beragama dan bernegara) apa lagi dengan mereka yang sama sekali “mengkafirkan” atau “mengharamkan” buku dalam hidupnya, waduh, kapan sejahteranya bangsa ini jika banyak orang yang seperti itu beredar “dipasaran”?

Hemat saya, “jika bangsa ini ingin mengelola sumber daya alamnya sendiri, maka pondasi yang harus diletakkan terlebih dahulu adalah kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca buku dan juga mengamalkan atau lebih sederhananya mempraktikan ilmu yang dibaca dan dipahami tersebut. Bagi para “agen perubahan”, rubahlah hal-hal yang buruk menjadi baik, dan yang baik menjadi lebih baik, bukan seperti hari ini yang di balik, dulu mahasiswa itu membangun bangsa, kenapa sekarang jadi “menghancurkan” bangsa secara perlahan?”

“Apa guna banyak baca buku, kalau mulut kau bungkam melulu” itu kata Wiji Tukul. Kalau kata saya, “Apa guna banyak baca buku, kalau tindakanmu bukan seperti orang berilmu”. Segitu ajah.(Ari Irawan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s