Karya Tulis

Ngopi, apaan itu dan mengapa ngopi itu penting ? | PB PERMATA

Oleh: Ari Irawan (Ketua PERMATA Cabang Bandung)

Mungkin banyak orang menganggap minum kopi adalah hal yang biasa, sekedar cara agar mata tetap terjaga, mengisi waktu luang di sela-sela kerja, atau sajian saat berbincang bersama teman, kekasih, sahabat, bahkan saudara dan keluarga. Tapi bagi PERMATA minum kopi lebih dari sekedar aktivitas yang berkala, sebab kami percaya bahwa dari secangkir kopi mampu membantu mewujudkan mimpi.  “Ngopi” istilah sederhana kami untuk menyebut aktivitas minum kopi, entah sudah menjadi tradisi atau memang istilah itu digunakan agar aktivitas minum kopi menjadi “easy listening” di kehidupan sehari-hari. Yang jelas dalam kebiasaan kami “ngopi” tidak harus minum kopi, berkumpul sambil makan dan minum  apapun bisa kami sebut sebagai “ngopi”. Maka bagi kami  “ngopi” bukan hal yang biasa, ia bisa menjelma menjadi “ngobrol penuh inspirasi”, “ngobrol pintar”, atau “ngobrol perihal ide”. 

“Ngopi” bagi kami dam mungkin bagi sebagian masyarakat indonesia memang sudah menjadi gaya hidup, apalagi “ngopi” sambil berkumpul dan membicarakan sesuatu. Menyoal apa yang dibicarakan ketika “ngopi”, kami biarkan itu mengalir seperti air panas terjun kedalam cangkir. Kadang membicarakan budaya, kadang membicarakan mahasiswa, kadang membicarakan politik, atau kadang membicarakan ide-ide gila. Jadi, bisa disebut isi dari “ngopi” adalah pembicaraan kadang-kadang. Dan apa yang dibicarakan ketika “ngopi”, kami sebut itu sebagai diskusi. 

Jelas sudah tradisi minum kopi dan berdiskusi bukan hanya tradisi pengisi hari, kami dudukan tradisi ini sebagai penentu gerakan berkreasi dan berinovasi saat ini dan kemudian hari untuk PERMATA dan Purwakarta. “Yakin dengan PERMATA bergerak untuk Purwakarta” begitulah kiranya ucapan Dion Murdiono Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (PB PERMATA).

Jika sedikit menadaburkan perkataan Cak Nun “Kalau kalian musisi, buatlah karya musik yang akarnya menghujam bumi dan daunnya menjulang ke langit. Kalau kalian aktivis organisasi, buatlah organisasi tersebut sampai akarnya menghujam bumi dan daunnya menjulang ke langit”, minun kopi dan berdiskusi bagi kami adalah bagian dari akar penunjang dedaunan yang akan menjulang ke langit. 

Kemudian silaturahmi akan selau hadir ketika kami “ngopi” dan diskusi, sebagai ajang menumbuhkan persaudaraan baru atau memupuk persaudaraan yang telah lalu. Dalam hal ini ada dua jalur silaturahmi, kami sebut jalur vertikal dan horisontal. Jalur Vertikal kami gunakan ketika kami harus berkaca diri, mengevaluasi langkah-langkah yang mungkin salah. Jalur komunikasi kepada para pendiri dan pendahulu organisasi, sebagai implementasi “Jas Merah” milik Soekarno. Jalur horisontal adalah jalur yang berlubang, berliku, naik turun tak menentu namun tetap membuahkan persaudaraan baru. Jalur horisontal menghadirkan persaudaraan baru ketika dengan siapapun kami “ngopi” dan diskusi. 

Sederhana memang tradisi minum kopi, diskusi dan silaturahmi ini, sesederhana manusia yang hidup kemudian mati. Dan intinya dimanapun kau berada, jangan mati ketika hidup.(Septio Ali Reza)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s