Karya Tulis

Semuanya Sensitif mendengar kata Gender, Apa itu? | PB PERMATA

Gender

​Tulisan ini hasil dari diskusi kecil-kecilan dari sekretariat PERMATA Cabang Purwakarta.

Gender

Apa sih gender itu? banyak yang kita mungkin belum mengerti benar ataupun malah nggak tau apa itu gender. Bahkan ada yang salah kaprah menganggap gender itu makhluk yang tidak perlu ada karena banyak merugikan pihak tertentu.

Gender itu berasal dari bahasa latin “GENUS” yang berarti jenis atau tipe. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya. Kalau begitu antara gender dengan seks sama dong ? Pertanyaan itu sering muncul dari pengertian kata asli dari genus atau gender itu sendiri.

Hikayat Pembagian Peran
Menurut Ilmu Sosiologi dan Antropologi, Gender itu sendiri adalah perilaku atau pembagian peran antara laki-laki dan perempuan yang sudah dikonstruksikan atau dibentuk di masyarakat tertentu dan pada masa waktu tertentu pula.
Gender ditentukan oleh sosial dan budaya setempat sedangkan seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan oleh Tuhan. Misalnya laki-laki mempunyai penis, memproduksi sperma dan menghamili, sementara perempuan mengalami menstruasi, bisa mengandung dan melahirkan serta menyusui dan menopause.

Bagaimana pula bentuk hubungan gender dengan seks (jenis kelamin) itu sendiri? Hubungannya adalah sebagai hubungan sosial antara laki-laki dengan perempuan yang bersifat saling membantu atau sebaliknya malah merugikan, serta memiliki banyak perbedaan dan ketidaksetaraan.

Hubungan gender berbeda dari waktu ke waktu, dan antara masyarakat satu dengan masyarakat lain, akibat perbedan suku, agama, status sosial maupun nilai tradisi dan norma yang dianut.

Gender dan jenis kelamin seolah-olah adalah dua sisi mata uang. Saat kita membicarakan gender terbesit pula soal pembedaan berdasarkan jenis kelamin dalam pikiran kita. Gender mudah untuk kita ucapkan dan tulis, akan tetapi tidak mudah untuk dipahami, karena gender berangkat dari perspektif yang perlu dipahami seseorang terlebih dahulu. Ada yang belajar tentang gender, akan tetapi kemudian berhenti di tengah jalan karena menilai studi gender banyak menyoal hal yang abstrak. “Gender itu abstrak”, ungkapnya singkat ketika disinggung soal studi gender.

Pada sebuah kesempatan diskusi bersama beberapa kader PERMATA (Perhimpunan Mahisiswa Purwakarta) diantaranya Derry Adi Gunawan, Moch Ilga, Iren, Risma, Arga, Septio Ali Reza, Ari Irawan, Dewi, Dedes, Moch Iqbal dan Dion Murdiono. Pengetahuan tentang gender masih banyak yang berpendapat bahwa gender adalah pembedaan fisik atau jenis kelaminnya, pendapat lainnya ada yang menyebutkan bahwa gender adalah kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Ketika diskusi pembuka menyoal apa itu gender, banyak yang menyebutkan soal gender sama dengan soal jenis kelamin perempuan.

Gender sering pula ditarik dengan pembahasan emansipasi perempuan, hingga kemudian banyak diantara kita yang menyamakan dua hal tersebut. Secara bahasa dari Inggris ke Indonesia gender memang berarti jeniskelamin, maka tidak salah pula jika kemudian ketika kita diminta mengisi kolom gender disitu tertulis pilihan kolom laki-laki atau perempuan yang perlu kita checklist. Lalu di kesempatan lainnya, ketika saya berdiskusi dengan mahasiswa purwakarta , mereka bertanya kenapa harus ada gender? Kenapa selama ini gender melulu membahasnya dengan isu perempuan? Gender sebetulnya adalah hasil pemikiran yang dibentuk oleh konstruksi sosial, terikat ruang dan waktu. Gender menjadi pembedaan peran antara laki-laki dan perempuan yang terbentuk dari konstruksi sosial.

Akan tetapi sekarang ini banyak kalangan yang menyebutkan bahwa gender tidaklah sekedar jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki, difabel, anak dan lansia juga masuk dalam studi gender. Ketika dibahas gender, banyak muncul isu perempuan di dalamnya, hal ini disebabkan karena kedudukan perempuan dan peranannya di Indonesia dalam beberapa bidang kehidupan tak lepas dari persoalan ketimpangan gender. Gender tidak akan menimbulkan masalah bagi salah satu jenis kelamin jika tidak muncul ketimpangan dalam berjalannya pembangunan.

Masalah kekerasan berbasis gender, beban ganda yang kemudian banyak jatuh di pihak perempuan karena faktor budaya patriaki di Jawa, pelabelan negatif yang mengakar kuat yang disebabkan pula oleh kuatnya patriaki, menomorduakan salah satu pihak yang juga dikarenakan patriaki yang mengakar kuat, penyisihan kepada salah satu pihak yang mengakibatkan pemiskinan dalam segala aspeknya.

Selama ini masalah ketimpangan gender banyak dialami oleh kaum perempuan karena kuatnya buadaya patriaki. Akan tetapi banyak dengan di luar Jawa yang menganut sistem matrialisme? Perempuan disana lebih tinggi kedudukannya dibanding laki-laki. Bahwa laki-laki di Padang yang menganut sistem budaya matrialisme, mereka melakukan perantau hanya demi pencitraannya kepada masyarakat sekitar karena kuatnya peranan perempuan disana. Disitulah letak konstruksi sosialnya, ketika membahas gender maka akan diikuti dengan restorasi budaya. 


Diskriminasi Gender

Dalam buku “Aku dalam Gerak” hasil tulisan Adriani S. Soemantri (2011) menegaskan bahwa gender adalah jenis kelamin dan feminitas serta maskulinitas. Seperti halnya perempuan yang sering diidentikan dengan gayanya yang kemayu, lemah lembut, berambut panjang tergerai dan laki-laki yang pemberani, kuat, tidak cengeng seperti itulah yang disebut dengan gender. Berbeda dengan persoalan jenis kelamin yang cukup menyebutkan bahwa perempuan memiliki sel telur, bisa hamil, bisa melahirkan dan menyusui sedangkan laki-laki memiliki sperma dan penisnya. 

Riant Nugroho (2008) lebih singkat lagi dalam menjabarkan mengenai gender yang berarti sebuah pembedaan peran perempuan dan laki-laki dimana yang membentuk adalah konstruksi sosial dan kebudayaan, bukan karena konstruksi yang dibawa sejak lahir.

Ismi Dwi, Guru Besar dari Universitas Sebelas Maret turut mengakui bahwa saat ini masih muncul kerancuan mengenai pengertian gender dalam masyarakat kita. Ismi Dwi (2009) mendefinisikan bahwa gender sebagai perbedaan peran, kedudukan dan sifat yang diletakkan pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dibentuk oleh konstruksi sosial dan budaya. Jadi jelaslah bahwa studi gender berbeda dengan studi perempuan. Gender tidak selalu membahas perempuan yang tertinggal akan tetapi jika terdapat kasuistik dimana pihak laki-laki yang tertinggal maka kesetaraan dan keadilan gender juga akan memperjuangankannya. Gender memang mampu untuk membahas isu spesifik perempuan, semisal isu kesehatan reproduksi perempuan dengan kasus Angka Kematian Ibu (AKI), isu ini tidak akan menyebutkan bahwa laki-laki yang mengalami kesenjangan karena kehamilan dan melahirkan hanya dialami oleh perempuan tentunya. Sering dibahasnya persoalan gender dengan lingkup pada isu spesipik perempuan janganlah membuat kita memandang bahwa gender berarti jenis kelamin perempuan.

Afirrmative Action juga terdapat dalam studi gender, dimana pembangunan berperspektif gender akan mendorong kesetaraan dan keadilan bagi pihak yang tertinggal yang mana ia bisa dari pihak laki-laki maupun perempuan serta anak dan difabel. Isu kesetaraan dalam pembangunan berperspektif gender juga akan mengakomodir dari beberapa pihak untuk menciptakan keadilan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pihak, jadi gender bukanlah sekedar memandang perempuan. Kebijakan berprespektif gender pada dasarnya bertujuan untuk mencipatakan kesetaraan dan keadilan gender. Adil berarti sesuai dengan kebutuhannya dan setara berarti memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu sama-sama berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan.

Sumber: Modul PKBI Indonesia Remaja dan Jender“Gender and Sexuality Studies”Buku “Aku dalam Gerak” hasil tulisan Adriani S. Soemantri (2011)Riant Nugroho (2008) dan Ismi Dwi, Guru Besar dari Universitas Sebelas Maret.
Oleh: Lembaga Pers PB PERMATA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s