Karya Tulis

​Menulis hanya membuatmu menjadi Hebat | PB PERMATA

Orang pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan sejarah. (Pramoedya Ananta Toer)

     Perlu saya tulis Untuk apa kita menulis. Tapi, agar tidak terlalu mainstream maka tulisan ini saya beri judul Menulis Hanya Membuat Kamu Hebat. Bukan tanpa alasan saya mengatakan kenapa setiap penulis itu hebat, karena memang penulis itu mampu menggerakan atau setidaknya mempengaruhi pembaca dengan tulisannya. Inilah yang ditakuti Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte; 

“Aku lebih takut dengan seseorang yang memegang pena (penulis) dari pada seribu prajurit yang bersenjatakan lengkap”

            Kekuatan tulisan mampu merubah dunia dengan halus, bergerak secara perlahan, hingga puncaknya mengarah pada perubahan. Selain itu, menulis juga mampu membuat kita menjadi hebat –seperti yang saya katakan—hebatnya adalah, karena kita membantu mencerahkan pemikiran masyarakat yang saat ini sedang jumud (suram). Pun begitu, menulis juga adalah rangka menyebarkan kebaikan.

            Coba kita bayangkan, kita menulis satu artikel yang bermanfaat, dibaca oleh satu orang dan orang ini tergerak oleh tulisan kita lalu menyebarkannya pada yang lain, dan ternyata orang lain itu turut menyebarkan tulisan kita, dan seterusya. Berapa banyak kebaikan yang akan kita dapat? Ah, bisa kita bilang; menulis dapat me-masif-kan kebaikan. Hebat bukan?

            “Pintar dengan membaca, hebat dengan Menulis”

            Setelah kita banyak membaca, tentu anda semakin tahu. Lalu setelah anda tahu apakah tidak ingin menyebarkan pengetahuan itu? Untuk menjadi hebat dan bermanfaat tidak cukup dengan hanya membaca, anda juga harus menuliskannya.

             Apa jadinya bila para ulama itu hanya membaca kitab dan tidak menuliskan gagasannya. Apa jadinya bila Imam Syafi’i hanya membaca, tentu tidak akan muncul kitab Ar Risalah, apa jadinya bila Imam Bukhari dan Muslim hanya membaca, tentu kita tidak akan bisa menikmati wejangan hadisnya. Pun, apa jadinya bila Tan Malaka tidak menulis? Tentu  tidak akan muncul buku Madilog. Apa jadinya bila tidak ada penulis, mungkin Indonesia tidak akan Merdeka.

            Itulah mengapa, menulis itu sudah mejadi hal yang sangat biasa bagi para kaum muslim terdahulu khususnya para ulama dan para tokoh nasionalisme yaitu, untuk menyebarkan kebaikan dan mencerdaskan umat / rakyat. Ah, saya jadi teringat pesan yang disampaikan sayid Qutb. “Peluru itu” katanya, “yang biasa digunakan untuk menembak, hanya mampu menembus satu kepala, sedangkan tulisan mampu menembus ratusan hingga ribuan kepala.” Dahsyat bukan.

            “Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak dari seorang ulama besar, maka jadilah penulis”. [Imam Al-Ghazali]

            Bukan anak raja? Bukan anak presiden? Bukan anak seorang ulama? Maka imam Al-ghazali menyarankan anda untuk menjadi penulis. Bukan tanpa alasan beliau menyarankan anda untuk menjadi penulis. Selain anak raja, anak presiden dan anak dari seorang ulama dihormati serta disegani ia juga mudah dikenal. Nah, agar anda juga demikian maka jadilah penulis. Pun sepertinya, yang didapatkan oleh seorang penulis ‘lebih’ dari apa yang di dapatkan anak raja dan anak seorang ulama.

            “Semua orang akan mati hanya karyanyalah yang abadi, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti” [Ali bin Abi Thalib]

            Menulis juga merupakan proses menuju ‘keabadian’ si penulis boleh mati tapi tidak dengan karyanya. Nama mereka terus ada bahkan terus disebut meski mereka telah tiada. Pun, kebaikan mereka yang tertuang dalam buku-buku itu tetap mengalir hingga akhir. Maka –menurut saya— merugilah orang yang hanya membaca tapi tidak menulis, ia menyia-nyiakan kesempatan untuk menyebarluaskan kebaikan dan mencerdaskan seluruh elemen masyarakat melalui tulisannya.

“Jika ingin mengenal dunia, maka membacalah. Jika ingin dikenal dunia, maka menulislah”. (Pramoedya Ananta Toer)

            “Iya, menulis hanya akan menjadikanmu hebat dan terkenal. Jika tidak ingin menjadi orang hebat dan terkenal berhentilah membaca dan tak perlu menulis.”

            Sampai disini, apa yang masih membuat anda ragu untuk menulis? 

Oleh: Lembaga Pers PB PERMATA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s